Macam dan Jenis jenis sistem pola tanam

Posted by KizilElma Senin, 20 Mei 2013 0 komentar
Pada penjelasan sebelumnya telah di jelaskan tentang pengertian pola tanam monokultur dan polikultur, serta pengertian pola tanam dari berbagai sumber. Sekarang saatnya di simak lebih dalam lagi tentang berbagai sistem pola tanam yang sebelumnya telah di jelaskan di atas. Pola tanam yang pertama akan saya jelaskan adalah pola tanam monokultur.


Monokultur

Dalam segi agronomi serta budidaya tanaman, Pola tanam pertanian monokultur adalah pola tanam dalam dunia pertanian dengan menanam tanaman sejenis pada suatu bidang lahan bedengan, maupun guludan. Sebagai contoh adalah pada lahan sawah yang hanya ditanami padi saja, jagung saja, atau kedelai saja. Kelebihan pola tanam Monokultur  ini adalah untuk meningkatkan hasil pertanian karena pada suatu bidang lahan yang sama hanya di tanami tanaman sejenis saja sehingga produktivitas yang di hasilkan lebih banyak dan maksimal. 

Namun kekurangan pola tanam monokultur adalah dapat menyebabkan terbentuknya lingkungan pertanian yang tidakmantap karena hanya terdiri satu jenis tanaman saja dalam suatu bidang atau lahan pertanian. Fakta yang lain adalah pada  tanah pertanian harus diolah, dipupuk dan disemprot dengan insektisida. Jika tidak, tanaman pertanian mudah terserang hama dan penyakit. Jika tanaman pertanian terserang hama, maka dalam waktu cepat hama itu akan menyerang wilayah yang luas, sehingga dalam hal ini petani tidak dapat panen dan memanen hasil pertanianya dikarenakan tanamannya terserang hama semua. Kelebihan sistem pola tanam ini adalah teknis budidayanya yang  relatif mudah karena tanaman yang ditanam maupun yang dipelihara hanya satu jenis. Namun di sisi lain, kelemahan sistem pola  ini adalah tanaman relative mudah terserang hama maupun penyakit.
Pola tanam kedua yang akan saya jelaskan adalah pola tanam Polikultur.

Apa yang di maksud dengan pola tanam polikultur? Dalam kaitanya dengan segi agronomi, Polikultur berasal dari kata poli yang artinya banyak dan kultur artinya budaya. Sehingga pengertian pola tanam Polikultur di sini adalah sistem pola tanam dalam pertanian dengan menanam banyak jenis tanaman  pada satu bidang lahan yang terusun dan terencana dengan menerapkan aspek lingkungan yang lebih baik.
Keuntungan pola tanam polikultur adalah sebagai berikut :
a.       Dapat mengurangi serangan organisme pengganggu tanaman (pemantauan populasi hama), karena tanaman yang satu dapat mengurangi serangan organisme pengganggu tanaman lainnya. Misalnya bawang daun dapat mengusir hama aphids dan ulat pada tanaman kubis karena mengeluarkan bau allicin,
b.      Mampu menambah kesuburan tanah. Hal ini dapat di lakukan dengan menanam tanaman dari family leguminosa atau sejenis kacang-kacangan- yang memiliki kandungan unsur N (nitrogen) dalam tanah karena adanya bakteri Rhizobium yang terdapat dalam bintil akar. Dengan menanam yang mempunyai perakaran berbeda, misalnya tanaman berakar dangkal ditanam berdampingan dengan tanaman berakardalam, tanah disekitarnya akan lebih gembur.
c.       Siklus hidup hama atau penyakit dapat terputus, karena sistem ini dibarengi dengan rotasi tanaman sehingga  dapat memutus siklus organism pengganggu tanaman,
d.      Salah satu keuntungan yang lain dari pola tanam polikultur ini adalah memperoleh hasil panen yang beragam. Penanaman lebih dari satu jenis tanaman akan menghasilkan panen yang beragam. Ini menguntungkan karena bila harga salah satu komoditas rendah, dapat ditutup oleh harga komoditas lainnya.
Namun segala sesuatu di dunia ini tidaklah ada yang sempurna, semua itu pasti memiliki plus minusnya sendiri, yang terpenting di sini adalah bagaimana kita mampu meminimalisir sisi negative itu dan mampu memaksimalkan sisi positifinya. Dalam sistem pola tanam budidaya pertanian pun pasti memiliki kekurangan dan kelebihanya tersendiri, karena masing masing saling melengkapi dan menuitupi. Okeh silahkan di simak kekurangan sistem pola tanam polikultur.
Kekurangan sistem pola tanam polikultur adalah sebagai berikut :

a. Terjadinya persaingan dalam mendapatkan dan menggunakan unsur hara antar tanaman dalam tanah,
b. Organisme pengganggu tanaman banyak, sehingga sulit dalam pengendaliannya dan memerlukan biaya yang lebih mahal.

Baca Selengkapnya ....

Pengertian pola tanam dan pertanian monokultur

Posted by KizilElma 0 komentar
Dalam usaha budidaya tanaman, pola tanam sangatlah memegang peranan penting dalam rangka menghasilkan produktivitas yang tinggi, namun kebanyakan dari para petani kurang memperhatikan tentang pentingnya pengaturan jarak tanam, serta jenis jenis pola tanam mana yang sesuai dengan kondisi lingkungan yang di gunakan untuk usaha budidaya tanaman pertanian. Jadi, pengertian pola tanam adalah suatu cara pengaturan urutan tanam pada sebidang lahan dalam satu tahun atau lebih dimana termasuk didalamnya terdapat masa pengolahan tanah.
            Dalam topik kali ini akan saya jelaskan tentang pengertian pola tanam yang saya kutip dan dapatkan dari berbagai sumber serta referensi yang ada, silahkan di simak.
a.    Pola tanam adalah cara, usaha, dalam kaitanya dengan pengaturan sistem pertanaman  budidaya tanaman, baik sistem menanam padi, dan tanaman lainya dalam satu tahun
b.    Pola tanam merupakan suatu urutan tanam pada sebidang lahan dalam satu tahun atau lebih , termasuk didalamnya terdapat  masa pengolahan tanah yang di lakukan sebagai langkah awal yang turut menentukan keberhasilan dalam usaha budidaya tanaman.
     Pola tanam merupakan bagian penting atau sub sistem dari sistem budidaya tanaman pertanian, maka dari sistem budidaya tanaman ini untuk menghasilkan produktivitas yang maksimal perlu dikembangkan satu atau lebih sistem pola tanam. Pola tanam ini diterapkan dengan tujuan memanfaatkan sumber daya secara optimal dan untuk menghindari resiko kegagalan. Namun yang terpenting dalam persyaratan tumbuh antara kedua tanaman yang di usahakan adalah adanya kesamaan terhadap lahan.
         Daerah tropis merupakan daerah dengan curah hujan yang tinggi serta musim kemarau yang cukup panjang. Pada daerah beriklim tropis ini, pola tanam biasanya disusun selama satu tahun dengan memperhatikan curah hujan, terutama pada daerah atau lahan yang sepernuhnya tergantung dari hujan sehingga antisipasi kekurangan air pun dapat teratasi. Maka dari itu, pemilihan jenis atau varietas yang ditanam pun perlu disesuaikan dengan keadaan air yang tersedia ataupun curah hujan yang terjadi selama musim penghujan datang.
         Pada sistem pola tanam yang sudah berkembang sekarang ini, di ketahuai jenis jenis pola tanam di antaranya adalah terbagi menjadi  dua yaitu pola tanam monokultur dan pola tanam polikultur. Dalam hubunganya dengan bududidaya tanaman pertanian, Pola tanam Pertanian monokultur adalah pertanian dengan menanam tanaman sejenis tanaman dalam suatu bidang lahan, bedengan, maupun guludan. Misalnya pada lahan sawah ditanami tanaman padi saja, jagung saja, atau kedelai saja. Tujuan dari penanaman secara monokultur adalah meningkatkan hasil pertanian. Sedangkan pada jenis pola tanamp pertanian polikultur ialah pola pertanian dengan banyak jenis tanaman  pada satu bidang lahan yang terusun dan terencana dengan menerapkan aspek lingkungan yang lebih baik sehingga kestabilan ekosistem lebih terjamin.
Dalam usaha budidaya tanaman pertanian, Pengetahuan mengenai pola tanam sangatlah perlu bagi petani. Sebab dari usaha tani yang  dilakukan, diharapkan dapat mendatangkan hasil yang maksimal bagi petani bukan mendatangkan kerugian yang dapat membuat petani menjadi gusar dan kebingungan akibat komiditas atau tanaman yang di usahakan gagal panen atau panan di bawah ambang batas. Dalam hal ini tidak hanya hasil yang menjadi objek, bahkan keuntungan maksimum pun dapat didapat jika petani tidak mengabaikan pengawetan tanah serta mampu menjaga kestabilan kesuburan tanah dengan cara memperlakukan dan menggunakan tanah untuk usaha budidaya pertanian dengan sebaik mungkin dan sebijak mungkin agar kesuburan tanah tetap terjaga.

Just Share ^_^



Baca Selengkapnya ....

Laporan Praktikum Kemajuan Seleksi

Posted by KizilElma Sabtu, 11 Mei 2013 0 komentar
      Pada postingan kali ini saya akan memberikan contoh laporan praktikum kemajuan seleksi dasar pemuliaan tanaman. Sebelumnya sudah saya posting tentang contoh laporan praktikum tanaman menyerbuk sendiri guna di jadikan sumber referensi bagi kawan kawan. Namun perlu di catat bahwa postingan kali ini tidak bermaksud untuk memberikan fasilitas atau kemudahan bagi kawan kawan semua, namun hanya sekedar berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam bidang pertanian khususnya program studi agroteknologi. Dalam postingan ini, di harapkan kawan kawan semua tidak serta merta mengcopy paste laporan praktikum kemajuan seleksi ini, namun dapat memilah milah informasi mana yang di perlukan dan mana yang tidak, serta menjadikan contoh  laporan praktikum menyerbuk silang ini bukan sebagai bentuk plagiarisme kawan kawan namun sebagai referensi dan litelatur bagi kawan kawan semua. Copy paste hukumnya haram.
Silahkan di simak.I.                   PENDAHULUAN

      A.  Latar Belakang 
Evaluasi dan pemuliaan tanaman maka populasi secara tetap digantikan oleh special  yang unggul. Penggantian yang tetap mempunyai kekuatan yang pertama disebut seleksi, dimana individu dengan jenis karakteristik dipakai untuk reproduksi sebelum berhubungan dengan subyek penting dengan beberapa implikasi dalam cara pemuliaan tanaman, maka perlu untuk membahas dasar genetic dari seleksi. Dua hal yang sangat penting untuk memahami prinsip pemuliaan tanaman : (1) seleksi dapat bekerja secara efektif hanya dalam perbedaan yang dapat di wariskan ; (2) seleksi tidak dapat menciptakan variabilitas tetapi hanya bekerja pada sifat yang telah ada. Tersedianya induk yang memebatasi variabilitas genetik suatu program serta penyeselaiaannya merupakan suatu keputusan yang menentukan. Jika pemulia salah dalm menentukan induk, maka kemungkinan untuk mencapai kemajuan dalm genetic akan menurun.
Pemuliaan dianggap penting dalam perbaikan tanaman. Pemuliaan antara tanaman sejenis menyebabkan naiknya homo zigotas. Hal ini berlaku untuk setiap tempat, sehingga baik karakter kuantitaf maupun karakter yang ditentukan oleh seabgian  sifat-sifat genetic – memisahakn populasi menjadi kelompok-kelompok yang secara genetika  berbeda, dan masing-masing yang seragam dikellompokan, sehingga dapat dikatakan bahwa pemuliaan sejenis tidak mencakup variabilitas geentik yang disembunyikan.
Syarat keberhasilan usaha pemuliaan tanaman adalah tersedianya keragaman suatu genetic dalam populas, agar dapat dipilih genotip yang di sukai. Keragaman genetic dapat terjadi secara alami (persilangan alami, mutasi spontan) atau secara buatan. Seleksi dapat dilakukan pada berbagai tingkatan, yaitu antar indivoidu, antar family bahkan antar sel. Seleksi deferensial (S)adalah rata-rata populasi terpilih dikurangi rat-rata populasi awal.
Naluri untuk menyeleksi sudah ada sejak manusia  membudidayakn tanaman. Pertamanya orang memilh biji berdasarkan perasaan dan apa yannng dianggap terbaik untuk ditanam pada generasi berikutnya. Atas dasar pengalaman maka cara seleksi makin ditingkatkan  dan mulai skhir abad 18, seleksi Nampak lebih efektif setelah ditemukan metode pada pemuliaan tanaman. Pengetahuan seleksi lebih berkembang counter, melaporkan hasil pekerjaanya yaitu menyeleksi tanaman secara individu pada wheat.
Kegiata seleksi tanaman bertujuan untuk mendapatkan sifat unggul dari seluruh sifat yang ada pada suatu tanaman yang berarti merubah sifat genetic yaitu memepertinggi frekuensi gen yang disukai yang biasannya bersifat unggul dan sekaligus mengurangi frekuensi gen yang tidak disukai.

           B.    Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk menduga kemajuan seleksi (selection advance) pada suatu populasi dalam rangka usaha pemuliaan tanaman.

II.               
TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Seleksi adalah memilih serta mencari keuntungan tanaman atau ternak yang memiliki karakter baik, yang berguna untuk meningkatkan hasil serta mutunya.  Karakter-karakter baik ditentukan genotipe, tetapi ekspresinya dipengaruhi oleh faktor lingkungan.  Oleh karena itu, dalam mencari serta memilih sifat genetik yang baik, sekaligus disertai dengan menentukan lingkungan yang cocok dan paling ekonomis terhadap yang diseleksi.  Seleksi dapat juga disebut dengan usaha pemuliaan (Yatim, 1983).
Seleksi alam merupakan seleksi yang dipengaruhi oleh faktor alam dalam mengarahkan seleksi tersebut yang umumnya bersifat acak, sedangkan seleksi buatan merupakan seleksi yang sengaja dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan atau meningkatkan proporsi karakter yang diinginkan berada pada populasi tanaman yang dikembangkan (Widodo, 2003).
Seleksi suatu tanaman membutuhkan keragaman genetik yang tinggi untuk mendapatkan tanaman hasil seleksi yang diinginkan. Kerena membutuhkan keragaman genetik, maka berhubungan dengan adanya kegiatan konservasi pada plasma nutfah. Plasma nutfah dapat ditemukan di alam dan juga ditemukan pada kolektor-kolektor plasma nutfah. Oleh karena itu, seleksi juga terbagi menjadi dua, yaitu seleksi alam dan seleksi oleh manusia. (Allard, 1988)
Program pemuliaan tanaman dapat maju atau berkembang dengan baik apabila keragaman yang ada memadai. Apabila keragaman genetik terbatas perkembangannya akan menjadi lambat. Oleh karena itu program pemuliaan yang hanya mengandalkan keragaman genetik yang sudah ada kemajuannya lambat (Wels, 1981). Syarat keberhasilan usaha pemulian tanaman adalah tersedianya keragaman genetik dalam suatu populasi, agar dapat dipilih genotip yang disukai. Keragaman genetik dapat terjadi secara alami melalui persilangan alami dan mutasi spontan atau secara buatan.
Seleksi pada suatu tanaman merupakan penunjukkan suatu respek fenotip suatu tanaman. Dalam pemuliaan tanaman seleksi yang diberlakukan bertujuan agar terjadi suatu kestabilan sifat yang diinginkan berdasarkan suatu korelasi dari sifat  yang muncul yang berasal dari komponen genetika dalam tanaman itu sendiri. (Nanda, 2000)
Ragam fenotipik merupakan komponen dalam perhitungan pendugaan kemajuan seleksi yang berbanding terbalik dengan kemajuan seleksi sehingga makin besar ragam fenotipik semakin kecil kemajuan seleksi yang akan diperoleh. Heritabilitas suatu karakter merupakan besaran yang menunjukkan karakter tersebut dapat diwariskan ke keturunannya, yang merupakan porsi dari total keragaman fenotipe yang disebabkan oleh factor genetik. Oleh karena itu, keberhasilan seleksi dapat dicerminkan oleh besaran heritabilitas. (Sutoro, 2006)
Menurut Allard (1988), didalam evaluasi dan pemuliaan tanaman populasi secara tetap digantikan oleh spesies yang unggul.  Penggantian secara tetap ini kekuatan yang pertama adalah seleksi, dimana individu dengan spesies karakteristik dipakai untuk reproduksi sebelum berhubungan dengan subjek penting ini dengan beberapa implikasinya dalam cara pemuliaan tanaman, dirasa perlu untuk membahas dasar genetik dari seleksi.
III.             METODE PRAKTIKUM

             A.  BAHAN
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Tiga macam kelompok biji kacang tanah, yaitu:
a.       Kelompok biji kacang tanah besar
b.      Kelompok biji kacang tanah kecil
c.       Kelompok biji kacang tanah campuran

            B.      ALAT
Alat yang digunakan dalam praktikum adalah Alat Tulis, Timbangan analitik, Lembar pengamatan

            C.  PROSEDUR KERJA
  1. Diambil secara acak sebanyak 50 biji kacang tanah dari ketiga kelompok biji yang ada.
  2. Setiap biji yang terambil ditimbang dan dicatat bobotnya satu persatu.
  3. Pekerjaan nomor 1 dan 2 diulang sebanyak tiga kali.
  4. Biji-biji yang selesai ditimbang dikembalikan lagi pada tempatnya.
  5. Biji-biji yang berukuran besar dipilih atau diseleksi sebanyak 30 biji dari setiap kelompok biji yang ada.
  6. Setiap biji yang terseleksi atau terpilih ditimbang dan dicatat bobotnya satu persatu.
 IV.             HASIL DAN PEMBAHASAN

      A.      HASIL PENGAMATAN
Biji kacang tanah dengan keragaman besar
NO
Populasi Awal (Po) 50 biji
Populasi terpilih (pi) 30 biji
Bobot
Jumlah
Bobot
Jumlah
1
0,1
2
0,1

2
0,2
2
0,2

3
0,3
22
0,3
3
4
0,4
15
0,4
20
5
0,5
9
0,5
7
  
         B.     PEMBAHASAN
Pengertian kemajuan Seleksi dalam pemuliaan tananam berarti mengidentifikasi individu yang diinginkan dengan tujuan menghasilkan, memperbanyak dan memancarkan bermacam-macam tanaman untuk digunakan manusia secara langsung atau tidak langsung dari tanaman yang sudah dikenal dan diusahakan dalam pertanian (Wels, 1981).
Seleksi merupakan bagian penting dari program pemuliaan tanaman untuk memperbesar peluang mendapatkan genotipe yang unggul. Pengujian perlu dilakukan sebanyak mungkin pada galur-galur terpilih, sehingga didapatkan galur-galur yang berdaya hasil tinggi (Pinaria et al., 1995). Seleksi dapat dilakukan pada berbagai tingkatan, yaitu antar individu, antar famili, bahkan antar sel. 
Manfaat dan tujuan di adakanya seleksi dalam pemuliaan tanaman adalah :
a.       Seleksi dapat menghasilkan perbaikan yang berharga dalam varietas tanaman.
b.      Untuk memperbesar peluang mendapatkan genotipe yang unggul
c.   Mampu memberikan terjadinya stabilitas varietas, peningkatan produksi pada suatu titik tertentu dan penurunan jumlah varietas yang ada di alam.
d.      Untuk menambah frekuensi gen dan tidak akan menciptakan gen-gen baru.
Sifat-sifat yang harus diperhatikan dalam seleksi adalah kuantitas dan kualitas hasil.  Hal ini sesuai dengan pendapat Soepomo (1968), bahwa sifat-sifat umum yang harus diperhatikan dalam seleksi adalah banyaknya hasil, kualitas hasil, dan kepastian mendapatkan hasil.  Menurut Yatim (1983), dalam kita melakukan seleksi terhadap galur terberat tak cukup hanya melihat biji suatu kelompok batang atau keturunan, harus ditelusuri juga sifat genetisnya. 
Faktor yang mempengaruhi tidak adanya kemajuan seleksi :
·       Pemilihan kacang tanah kurang acak.
·       Ada biji kacang tanah yang besar tetapi bobotnya rendah karena kopong.
·       Pengambilan  kacang tanah pada waktu pemilihan tidak dikembalikan lagi ke tempatnya.
·       Pengambilan yang tidak homogen
·       Ketidak telitian pengamat dalam mengukur dan menilai
·       Ketidak ahlian pengamat dalam melakukan seleksi
·       Kondisi lingkungan seperti angin dan tekanan udara yang dapat merubah
·       ketepatan nilai alat ukur
·       Kondisi alat ukur
Seleksi adalah memilih serta mencari keuntungan tanaman atau ternak yang memiliki karakter baik, yang berguna untuk meningkatkan hasil serta mutunya.  Karakter-karakter baik ditentukan genotipe, tetapi ekspresinya dipengaruhi oleh faktor lingkungan.  Oleh karena itu, dalam mencari serta memilih sifat genetik yang baik, sekaligus disertai dengan menentukan lingkungan yang cocok dan paling ekonomis terhadap yang diseleksi.  Seleksi dapat juga disebut dengan usaha pemuliaan (Yatim, 1983).
Seleksi alamiah juga dapat diterapkan pada karakter-karakter yang pewarisannya sederhana seperti ketahanan terhadap hama dan penyakit. Kehilangan hasil dapat ditekankan bila seleksi alamiah telah berlangsung sampai keadaan setimbang antara gen-gen ketahanan dapat dicapai. (M. Nasir, 2001)
       Seleksi merupakan salah satu langkah dalam pemuliaan tanaman yang tertua. Seleksi pada awalnya hanya berdasarkan perasaan dan apa yang dianggap baik untuk ditanam pada generasi berikutnya. Seleksi berkemabang setelah ditemukan berbagai teknik seleksi. (Sunarto,1997)
         Seleksi massa dilakuakan terhadap sekumpulan biji, stek, buah, atau tanaman yang akan dipergunakan untuk bahan perbanyakan secara kolektif untuk masa yang akan datang.
Menurut Allard (1988), didalam evaluasi dan pemuliaan tanaman populasi secara tetap digantikan oleh spesies yang unggul.  Penggantian secara tetap ini kekuatan yang pertama adalah seleksi, dimana individu dengan spesies karakteristik dipakai untuk reproduksi sebelum berhubungan dengan subjek penting ini dengan beberapa implikasinya dalam cara pemuliaan tanaman, dirasa perlu untuk membahas dasar genetik dari seleksi.
Menurut Yatim (1983), alasan mengapa seleksi perlu dilakukan adalah sifat genetis penduduk suatu spesies pada umumnya sangat heterozygot.  Hal ini disebabkan tempat hidup yang berbeda-beda, daya dan arah mutasinyapun berbeda-beda pada gen yang sama, lingkungan yang berbeda, dan adanya perkawinan acak.  Keheterozygotan tersebut menyebabkan banyak sifat genetis baik yang tersembunyi dan ditutupi oleh sifat yang lain.  Adanya seleksi alel akan mengekspresikan kembali sifat-sifat tersebut. Keuntungan dari adanya seleksi diutarakan oleh Van Mons di Belgia, Knight di Inggris, dan Cooper di Amerika dalam bukunya Allard (1988), yaitu seleksi dapat menghasilkan perbaikan yang berharga dalam varietas tanaman.
Pada praktikum kali ini di sediakan biji kacang tanah yang terdiri dari tiga kelompok :
a.       Kelompok biji kacang tanah ukuran besar dengan keragaman kecil
b.      Kelompok biji kacng tanah ukuran kecil dengan keragaman besar
c.       Kelompok biji kacang tanah dengan keragaman besar
Di ambil secara acak sebanyak 50 biji kacang tanah dari tiap kelompok yang ada. Seteleh itu di timbang setiap biji yang terambil dan di catat nilai bobotnya. Pekerjaan ini di lakukan sebanyak 3 kali ulangan. ( dengan biji biji yang selesai di timbnag di kembalikan lagi pada tempatnya ). Pada pengambila biji yang pertama sebanyak 5 kali ulangan di peroleh bobot biji sebesar antara lain 0,1 jumlahnya0,2 jumlahnya 2, 0,3 jumlahnya 22, 0,4 jumlahnya 15 dan 0,5 jumlahnya 9. Setelah pengambilan 50 biji yang pertama pada populasi awal, kemudian di ambil lagi 30 biji dalam populasi terpilih di peroleh hasil bobot nilai anatara lain 0,3 jumlahnya 3, 0,4 jumlahnya 20 dan 0,5 jumlahnya 7. Dari hasil bobot nilai pada populasi awal dan populasi terpilih kemudian di hitung Po dan Pi nya. Adapun untuk nilai Po adalah sebesar 0,354 sedangkan untuk nilai Pi nya adalah sebesar 0,41. Yang kemudian di cari nilai kemajuan seleksi dengan menggunakan rumus :
R= H.S
Dimana H adalah data waris atau heretabilitas suatu sifat. Dan untuk hasil kemajuan seleksi di peroleh nilai sebesar 0,01176.
Hasil praktikum kali ini, di peroleh nilai seleksi diferensial sebesar 0,056 dengan kemajuan seleksi 0,01176.
Heritabilitas secara tepat hanya berlaku pada populasi dan lokasi dimana nilai h2 tersebut dihitung. Nilai heritabilitas negatif yang diperoleh dari pendugaan dengan banyak cara analisis ragam (anova) kemungkinan disebabkan oleh :
a) jumlah pengamatan yang sedikit, dimana semakin sedikit jumlah pengamatan semakin besar kemungkinan heritabilitas bernilai negatif
b)  jika pendugaan nilai heritabilitas dihitung dari komponen pejantan maka peluang terjadinya nilai heritabilitas negatif lebih kecil jika jumlah pengamatannnya sama
c)   jika jumlah anak (pengamatan) dari setiap ekor pejantan atau induk tidak sama, dapat membuka peluang heritabilitas negatif yang lebih besar. (Brewbaker,1983)
Menurut Mursito (2003), nilai heritabilitas dikatakan rendah apabila bernilai kurang dari 0,10; sedang jika nilainya antara 0,10 – 0,30 dan tinggi jika lebih dari 0,30. Nilai heritabilitas memiliki sifat sebagai berikut:
1.    Bukan-suatu-konstanta
2.    Untuk setiap sifat (pada umumnya sifat kuantitatif) nilai heritabilitas suatu sifat dapat berbeda karena perbedaan lokasi pengamatan, perbedaan kelompok ternak, waktu pengamatan dan cara menghitung heritabilitas. Nilai h2 untuk sifat-sifat ketegaran (fittnes) seperti sifat reproduksi dan daya hidup biasanya kecil

V.                SIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1.      Seleksi merupakan bagian penting dari program pemuliaan tanaman untuk memperbesar peluang mendapatkan genotipe yang unggul. Pengujian perlu dilakukan sebanyak mungkin pada galur-galur terpilih, sehingga didapatkan galur-galur yang berdaya hasil tinggi
2.      Manfaat dan tujuan dengan di adakanya seleksi adalah : Seleksi dapat menghasilkan perbaikan yang berharga dalam varietas tanaman. Untuk memperbesar peluang mendapatkan genotipe yang unggul, Mampu memberikan terjadinya stabilitas varietas, peningkatan produksi pada suatu titik tertentu dan penurunan jumlah varietas yang ada di alam. Untuk menambah frekuensi gen dan tidak akan menciptakan gen-gen baru.
3.      Pada praktikum kali ini di peroleh nilai kemajuan seleksi sebesar 0,01176 dengan nilai seleksi differensial sebesar 0,056


DAFTAR PUSTAKA
Allard, R. W. 1988. Pemuliaan Tanaman I.  Bina Aksara, Jakarta.

Nanda, Jata S. 2000. Rice Breeding and Genetics. Science Publisher, Inc: Plymouth 382 halaman.

Nasir. 2001. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

Mursito, Djoko. 2003. Heritabilitas dan Sidik Lintas Karakter Fenotipik Beberapa Galur Kedelai (Glycine Max. (L.) Merrill). Agrosains 6(2):58-63

Pinaria, A., A. Baihaki, R. Setiamihardja dan A.A. Daradjat (1995) Variabilitas Genetik dan Heritabilitas Karakter-Karakter Biomasa 53 genotipe Kedelai. Zuriat  6 (2), 88-92

Soepomo. 1968. Ilmu Seleksi dan Teknik Kebun Percobaan. PT. Soeraengan : Jakarta.

Sunarto. 1997. Pemuliaan Tanaman. IKIP Semarang Press, Semarang. 52 halaman

Sutoro, dkk. 2006. Parameter Genetik Jagung Populasi Bisma pada Pemupukan Berbeda. I. Ragam Aditif-Dominan Bobot Biji Jagung. Jurnal AgroBiogen
2(2):60-67
Wels, James R. 1981. Dasar-dasar Genetika dan Pemuliaan Tanaman. Erlangga. Jakarta.

Widodo, Imam. 2003. Penggunaan Marka Molekuler Pada Seleksi Tanaman.(On-line).http://tumoutou.net/702_07134/imam_widodo_ files/filelist.xml.
Diakses pada 18 Oktober 2012

Yatim, W. 1983. Genetika. Tarsito, Bandung.











           



Baca Selengkapnya ....

Visited

Copyright © 2013 Aziz young farmer ( Muhammad Aziz Muslim ) Mahasiswa Fakultas Pertanian Unsoed. Diberdayakan oleh Blogger.